Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.
Arsip Blog
-
▼
2014
(22)
-
▼
Desember
(14)
- NATAL TANDINGAN
- Pengertian, Hakekat dan Ruang Lingkup Hukum Kelua...
- TUJUAN PERNIKAHAN
- USIA PERKAWINAN DI MESIR DAN INDONESIA
- SUMBER HUKUM KELUARGA
- LARANGAN KAWIN
- HUKUM KELUARGA ISLAM: TUJUAN DAN APLIKASINYA
- TRANSFORMASI HUKUM KELUARGA MUSLIM: TANGGUNGJAWAB...
- POLIGAMI
- KELUARGA IDEAL
- AHMAD SAINUL: MAHAR PAKISTAN
- KEPEMIMPINAN DALAM KELUARGA DAN KEKERASAN DALAM R...
- PERSIAPAN PERKAWINAN
- KONFLIK ELITE POLITIK KIH DAN KMP
-
▼
Desember
(14)
NERAKA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU
NERAKA DI BAWAH
TELAPAK KAKI IBU
![]() |
| Add caption |
Dimulai dari
fitrah manusia, bahwa setiap manusia menginginkan pernikahan. Setelah melangsungkan
pernikahan, setiap pasangan suami isteri pasti mendambakan hadirnya seorang
anak. Karena, anak adalah paktor kebahagiaan dalam keluarga. Namun tidak
menutup kemungkinan anak menjadi paktor buruknya keluarga dalam pandangan masyarakat,
tergantung orang tua bagaimana mendidik anaknya. Seorang anak bisa disamakan
dengan “kaset kosong”, artinya apapun yang ia terima dari keluarga dan
sekitarnya, maka itulah yang langsung direkam dan diaflikasikan dalam
kehidupannya. Untuk itu, penting diajarkan kecerdasan intlektual kepada anak.
Di samping itu, tidak kalah pentingnya adalah
kecerdasan spiritual (spiritual
intelligence) anak. Kecerdasan spiritual diartikan oleh sebagian orang
sebagai kecerdasan manusia dalam memberi makna. Kedua kecerdasan ini bisa
didapat melalui keluarga, sekolah, dan masyarakat. Namun keluargalah yang paling
berperan, karena waktu yang dihabiskan seorang anak di rumah lebih banyak
dibandingkan dengan waktu yang ia habiskan di tempat lain, dan kedua orang tua
merupakan figur yang paling berpengaruh terhadap anak. Melalui keluargalah
pertama kali tercipta prilaku anak baik atau buruk, dan itulah yang nantinya ia
terapkan di dalam masyarakat. Jika keluarga mendidik anak dengan baik otomatis
dapat bermanfaat bagi orang lain, maka
inilah yang dimaksud “surga berada di telapak kaki orang tuanya”. Namun sebaliknya,
jika anak mendapatkan pengajaran, perlakuan, dan pendidikan yang tidak baik dari orang tuanya, sehingga menjadi
beban di masyarakat dan negara, maka dapat
dikatakan “Neraka berada di telapak kaki orang tuanya”.
Sorowajan, 14 oktober, 2014
Ahmad Sainul Nasution
PENTINGNYA KE-IKHLASAN Dalam Ibadah
PENTINGNYA
KE-IKHLASAN Dalam Ibadah
![]() |
| source : http://s3.amazonaws.com/ |
Sama dengan ibadah yang kita
kerjakan, tanpa ke-ikhlasan semuanya akan menjadi sia-sia. Bahkan jangankan
pahala yang diharapkan malah dosa yang didapat, karena memakai pakaian Tuhan. Iya
orang yang melakukan ibadah karena riya, itu artinya dia telah memakai
pakaian Tuhan. Karena riya adalah sifat Tuhan yang tidak boleh dipakai
oleh hambanya.
Imam al-Gazali pernah menjelaskan
dalam buku fenomenalnya yang berjudul “ihya’ ulumuddin”. Ia bercerita tentang
seorang ahli ibadah dari kaum Bani Israil. Di mana suatu hari, datang seseorang
mengadu kepada ahli ibadah ini, bahwa ada sekelompok manusia yang menyembah
pohon, bukan menyembah Allah. Sesaat setelah mendengar cerita tersebut, si ahli
ibadah langsung naik pitam. Kemudian dia ambil kampaknya lalu berjalan menuju
tempat orang menyembah pohon, dengan tujuan untuk menebangnya. Di tengah jalan
ketemu sama iblis yang menyamar menjadi rupa seorang tua. Hingga akhirnya
terjadi percakapan di antara mereka.” Mau kemana kamu hai pemuda”, Tanya iblis.
“Aku mau menebang pohon yang dijadikan orang sebagai Tuhan” jawab si pemuda
dengan penuh semangat dan marah. Lalu “apa perlunya kamu dengan itu, bahkan
kamu rela meninggalkan ibadahmu” sahut iblis. “ini juga ibadah” jawabnya.
Akhirnya terjadilah percekcokan di
antara keduanya, hingga terjadi perkelahian yang dimenangkan oleh pemuda
tersebut. Namun akhirnya iblis menawarkan kesepakatan bahwa Ia berjanji akan
memberikan uang yang cukup banyak kepada pemuda tersebut asalkan Ia tidak jadi
pergi menebang pohon yang dijadikan orang sebagai Tuhan. Tentunya, kesepakatan
ini dengan proses panjang, bahkan sempat terjadi dua kali perkelahian. Namun berkat
kepintaran iblis, ia bisa meyakinkan pemuda tersebut dengan iming-iming “sedekah”.
Maksudnya ia menjelaskan kepada pemuda tersebut jika ia telah memberikan uang,
tentu ia akan bisa beribadah melalui sedekah.
Caranya, di mana setiap selesai
ibadah salat, iblis menjamin pasti di bawah sejadah ada uang yang cukup banyak.
Sehari dua hari berlalu, apa yang dijanjikan iblis memang jadi kenyataan. “Enak
Tenannnnn” mungkin itu yang ada dipikiran pemuda tersebut, karena tanpa banyak
kerja, tapi bisa menghasilkan uang yang lumayan banyak. Timbul permasalahan
tepatnya di hari ke-tiga, seperti biasa selesai salat buka sejadah, alangkah
kagetnya ia karena uang yang ia harapkan sudah tidak ada lagi. Kemudian, ia
kembali mengambil kampaknya benar-benar ingin menebang pohon tadi. Tepat di
tengah jalan, ketemu lagi sama iblis yang menyerupai orang tua, sambil bertanya
“kamu mau ke mana hai pemuda”. “aku mau menebang kembali pohon yang orang
jadikan sebagai Tuhan”. Singkat cerita terjadi perkelahian, di mana perkelahian
tersebut dimangkan oleh iblis. Merasa lebih kuat, lebih muda, ia penasaran
kenapa bisa kalah, lalu bertanya kepada iblis. “kenapa saya kalah” “begini,
pertama tujuan kamu menebang pohon, benar-benar ikhlas karena Tuhan, untuk itu saya
kalah. Kali ini tujuan kamu sudah beda, yaitu karena uang, makanya kamu kalah”
jawab iblis merasa puas karena sudah berhasil menggoda manusia apalagi seorang
ahli ibadah.
Sorowajan, 13 October 2014
Ahmad Sainul Nst
ARTI PENTING SEJARAH
ARTI PENTING
SEJARAH
Yoyakarta-Sejarah
berasal dari kata bahasa ‘arab “syajaro” artinya peristiwa atau kejadian. Secara
terminologi sejarah adalah ilmu yang mempelajari kehidupan manusia tentang masa
lalu. Namun terjadi pro-kontra tentang “waktu” sejarah itu sendiri, ada yang
mengatakan sejarah hanya masa lalu, namun ada mengatakan sejarah juga terkait
dengan masa sekarang dan akan datang. Penulis mengambil jalan tengah dengan
mengambil kesimpulan bahwa sejarah adalah ilmu yang mempelajari kehidupan
manusia dan masyarakat untuk melakukan pengembangan tidak hanya masa lalu,
namun juga masa sekarang dan masa yang akan datang menuju lebih baik.
Kemudian timbul pertanyaan, jika
tujuan sejarah adalah untuk evaluasi masa lalu, sekaran,g demi masa yang akan
datang agar lebih baik, kenapa umat Islam selalu jauh tertinggal dengan umat
lainnya, apa yang salah (what wrong).? Jawabannya masih berkaitan dengan
sejarah itu sendiri, di mana umat Islam kurang semangat/pandai mempelajari
sejarah (bahasa kasarnya kurang bersyukur), nenek moyang mereka masa lalu yang
seharusnya dapat membuat hidup mereka jauh lebih baik. Justru sebaliknya, umat
yang non-Muslim yang semangat dan terlalu mampu mengkaji sejarah. Tidak hanya sejarah
tentang nenek moyang mereka, namun juga sejarah nenek moyang kita (Islam).
Sejarah mengatakan bahwa,
sesungguhnya pakar/ilmuan matematika, geografi, dan astronomi adalah dari
kalangan umat Islam bernama al-Khawarizmi (Persia). Kemudian ilmuan mantik,
filsafat, dan ilmu kedokteran juga dari kalangan Islam yaitu Ibnu Sina. Tidak hanya
itu, Jabir ibnu Hayyan (Irak) seorang ilmuan kimia, farmasi, astronomi dan
filosofi juga dari umat Islam. Begitu juga Abu al-Zahrawi (Spanyol) seorang
ilmuan teknik pengobatan patah tulang. Namun yang terjadi ketika timbul
pertanyaan, siapa tokoh pencetus ilmu matematika, astronomi, geografis? Maka
jawabannya pasti Nicolas Capenicus seorang ilmuan Barat. Seolah-olah al-Khawarizmi
tidak turut ikut andil. Kemudia jika ditanya siapa penemu ilmu kimia, farmasi,
filosofi dan astronomi.? Maka jawabannya Robert Boyle (Irlandia). Seakan-akan
Jabir ibnu Hayyan, terlupakan.
Begitu juga jika dilihat saat
sekarang ini, yang paling menguasai segala bidang ilmu yang dijelaskan di atas adalah
umat lain (non-Muslim). Bahkan ilmu yang berkaitan dengan Islam sendiri
pusatnya sekarang di Amerika Utara tepatnya di Canada, sebuah Universitas Islam
yang terkenal dengan pendekatan sejarahnya. Dari Universitas ini telah banyak
melahirkan tokoh-tokoh Islam Indonesia seperti Mukti Ali, Harun Nasution.
Tidak hanya berkaitan dengan ilmu
pengetahuan, dalam bidang olahraga umat Islam selalu tertinggal. Misalnya dalam
bidang olahraga sepakbola, dapat dilihat umat Islam sejauh mana ikut tampil
dalam piala dunia? Begitu juga di Indonesia, disaat warga negara Indonesia
menaruh harapan kepada timnas U-19 demi kemajuan sepak bola Indonesia, namun
akhir-akhir ini harapan tersebut kian menipis, melihat kekalahan-kekalan yang
terus dialami. Terakhir kalah dari Uzbekistan dengan skor cukup telak 3-1 dalam
pertandingan AFC Cup U-19 2014 di Miyanmar. Sekali lagi, itu semua terjadi
ketika, manusianya mampu atau tidak mempelajari sejarah dengan baik, kemudian
mengambil kesimpulan dari sejarah itu sendiri, untuk persiapan masa yang akan
datang.
Kotagede,
12 October 2014
Ahmad
Sainul Nst.
ARTI PENTING SABAR
SABAR
Yogyakarta- Sabar berasal dari kata bahasa Arab "sobaro" artinya menahan. secara terminologi sabar berarti menahan diri dari kesusahan, kemiskinan, fitnahan, cercaan, makian dengan menyikapinya secara positif, dan mengembalikannya sesuai aturan syariat Islam. Sabar bisa disebabkan datangnya dari Tuhan, misalnya karena kemiskinan, kemelaratan bahkan kekayaan. sabar juga bisa datangnya dari intraksi sesama manusia, misal sabar menerima fitnahan dari orang lain, sabar menghadapi kejahatan orang lain. sedangkan sumber kesabaran dari makhluk lain, contohnya binatang, yaitu menahan diri untuk tidak membalas musibah yang disebabkan binatang itu sendiri. dalam pembahasan ini, fokusnya adalah sabar dari tindakan kejahatan dari manusia itu sendiri.
Ada pemahaman yang keliru dan berkembang di masyarakat yaitu "sabar ada batasnya". Padahal tidak ada ayat al-qur'an maupun sunnah yang menjelaskan bahwa sabar ada batasnya. justru al-qur'an dan sunnah menganjuran agar tetap sabar dalam segala cobaan yang dihadapi, sekali lagi tanpa batas waktu. ketika seseorang sabar akan cobaan yang menimpanya baik dari Tuhan, manusia maupun makhluk hidup lainnya, maka pada saat itu juga ia mendapatkan pahala dari Tuhan Yang Maha Esa.
Memang ada ayat yang menjelaskan hukuman tentang qisas yaitu "jiwa dibalas dengan jiwa", terhadap orang yang mendapat tindak kekerasan dari orang lain, bahwa kekerasan dibalas dengan kekerasan, namun ayat tersebut adalah ayat pilihan. Pilihan yang lebih baik adalah sabar. Sama halnya dengan ayat yang menjelaskan berkaitan dengan "puasa" bahwa orang yang sedang sakit, hamil, dan bepergian diperbolehkan tidak berpuasan. Namun ayat ini, menganjurkan bahwa puasa adalah lebih baik jika kamu mampu.
Terkait dengan sabar, cara terbaik membalas kejahatan, fitnah orang lain adalah apa yang sudah diperaktekkan Rasulullah Saw, yaitu dengan berbuat baik terhadap orang yang berbuat jahat tersebut. Rasulullah Saw pernah dicaci, difitnah oleh orang non-Muslim yang memiliki kondisi buta matanya. Namun apakah Rasulullah membalasnya dengan fitnah juga.? apalagi kondisi orang yang mencacinya lebih lemah dari Rasulullah, sehingga sewaktu-waktu jika Rasulullah mau membalasnya dengan sangat mudah, namun ternyata tidak. Sebelumnya, sabar itu berpahala ketika kita tidak membalas kejahatan yang orang lain buat terhadap kita. Namun, akan lebih besar pahalanya ketika kita mendapat fitnah dari orang lain, padahal kita sebenarnya mampu untuk membalasnya, kita lebih kuat fisiknya, lebih cemerlang cara berfikirnya, tapi kita lebih memilih sabar.
Terkait dengan sabar, cara terbaik membalas kejahatan, fitnah orang lain adalah apa yang sudah diperaktekkan Rasulullah Saw, yaitu dengan berbuat baik terhadap orang yang berbuat jahat tersebut. Rasulullah Saw pernah dicaci, difitnah oleh orang non-Muslim yang memiliki kondisi buta matanya. Namun apakah Rasulullah membalasnya dengan fitnah juga.? apalagi kondisi orang yang mencacinya lebih lemah dari Rasulullah, sehingga sewaktu-waktu jika Rasulullah mau membalasnya dengan sangat mudah, namun ternyata tidak. Sebelumnya, sabar itu berpahala ketika kita tidak membalas kejahatan yang orang lain buat terhadap kita. Namun, akan lebih besar pahalanya ketika kita mendapat fitnah dari orang lain, padahal kita sebenarnya mampu untuk membalasnya, kita lebih kuat fisiknya, lebih cemerlang cara berfikirnya, tapi kita lebih memilih sabar.
Sama halnya apa yang dipraktekkan Rasulullah terhadap orang buta yang memfitnahnya tersebut, Ia lebih memilih untuk sabar, bahkan malah membalas dengan kebaikan. di mana hampir setiap hari Rasulullah memberi makan, dan menyuapi orang yang jelas-jelas telah memfitnahnya. Anehnya si buta tersebut tidak mengetahui bahwa yang memberi ia makan adalah orang yang selama ini Ia fitnah. Hingga akhirnya Rasulullah meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia Rasulullah berpesan kepada salah satu sahabatnya, agar tetap memberi makan kepada sibuta tadi.
Singkat cerita, sahabat yang ditunjuk Rasulullah tersebut menjalankan tugasnya. Pada saat sahabat memberi makan kepada si buta tersebut, si buta merasa ada yang aneh. Di mana, pelayanan kali ini berbeda dengan biasanya yang ia rasakan, lemah lembut, sopan, dan penuh kehormatan. Merasa ada yang berbeda lalu si buta bertanya "kamu siapa, kenapa beda dengan sebelumnya"? "Orang yang memberi kamu makan selama ini adalah Rasulullah dan telah meninggal dunia, saya ditugaskan untuk mengganti posisinya memberi kamu makan." Jawab sahabat dengan penuh sara kehilangan.
Itu cara pertama, cara yang kedua membalas kejahatan, fitnahan dari orang lain adalah berusaha untuk menjadi lebih baik dan sukses. Karena biasanya orang lebih cenderung mendapatkan fitnah dari orang lain, ketika kondisi ekonominya standar dan di bawah rata-rata (miskin). Dalam hal ini, kita tunjukkan kepada orang yang memfitnah tersebut bahwa kita mampu dan tidak seperti yang ia bayangkan.
Kotagede, 12 Oktober 2014
Ahmad Sainul Nasution.
Ahmad Sainul Nasution.
FUNGSI KELUARGA
FUNGSI KELUARGA
Yogyakarta-Setiap manusia, pasti mengharapkan perkawinan karena dari
perkawinan akan lahir sebuah keluarga. Yaitu suasana rumah tangga antara ayah,
ibu dan anak (keluarga inti) penuh dengan kasih sayang. Suasana rumah tangga sekarang
(keluarga inti) sangat berbeda dengan keluarga pada zaman dahulu, di mana
terkadang dalam sebuah rumah tangga di dalamnya terdiri dari beberapa kepala
keluarga (keluarga binti).
Segala sesuatu pasti mempunyai
fungsi. Sama hal nya dengan keluarga juga mempunyai beberapa fungsi antara
lain:
1.
Fungsi
spiritual. Maksudnya, melalui perkawinan
antara suami, isteri dan anak semakin bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Misalnya,
jika suami sebelum menikah malas melaksanakan salat dengan alasan tidak
memiliki teman serasi dalam beridadah kepada Tuhan, maka setelah menikah alasan
tersebut sudah tidak berlaku lagi. Dan isteri harus mampu memposisikan dirinya untuk
mengingatkan suaminya tersebut. Begitu juga sebaliknya.
2.
Fungsi
ekonomi. Jika pada zaman dahulu sebelum
Indonesia mengalami system demokrasi seperti saat ini, kebanyakan dalam rumah
tangga yang menjadi tulang punggung untuk mencari nafkah (fungsi ekonomi)
biasanya suami. Namun berbeda dengan situasi kondisi saat ini, di mana peluang
antara laki-laki dan perempuan sama, maka tidak mustahil dalam sebuah keluarga
suami dan isteri sama-sama memiliki penghasilan. Islam memandang tidak ada yang
salah jika isteri memilki penghasilan tersendiri dan bekerja di luar rumah, selama
isteri tersebut dapat menjaga martabatnya sebagai seorang isteri dan perempuan.
Untuk mengatasi permasalahan keluarga seperti ini harus ada kesepakatan dan
komunikasi yang baik. Misalnya, pembagian tanggungjawab rumah tangga, bisa saja
anak dititipkan kepada pembantu ketika isteri sedang bekerja. Dalam hal
pembagian nafkah juga melalalui kesepakatan. Misalnya pembayaran untuk tagihan
listrik, biaya pendidikan anak, gaji pembantu dilimpahkan kepada isteri. Sedang
suami berkewajiban untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga.
3.
Fungsi
social. Maksudnya, antara suami isteri dan
anak dalam hubungan di masyarakat luas memiliki kewajiban untuk menjaga nama
baik keuarga. Seorang anak dituntut tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang
dapat mencemari nama baik orang tua. Tentunya untuk menerapkan pemahaman
seperti ini melalui pendidikan seperti yang akan dijelaskan fungsi keluarga
selanjutnya.
4.
Fungsi
pendidikan. Kewajiban selanjutnya
bagi suami isteri memberikan pendidikan kepada anak. Pendidikan tidak hanya
ketika anak sudah menjadi anak-anak kemudian disekolahkan, namun pendidikan juga
harus dimulai sejak anak di dalam kandungan. Ulama fikih sudah banyak
menjelaskan, pendidikan-pendidikan yang bisa diterapkan kepada anak sewaktu
dalam kandungan, mulai dari menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang
sampai membaca beberapa surat dalam al-qur’an surat (maryam yunus) yang
dianggap sangat banyak manfaatnya kepada anak kelak. Setelah anak lahir kedunia
sangat dianjurkan azan dikumandangkan pada telinga sebelah kanan. Sedangkan sebelah
kiri diiqomatkan.
5.
Fungsi
rekreasi. Keluarga yang baik adalah bukan
keluarga yang monoton. Artinya tidak selalu disibukkan dengan pekerjaan. Disamping
kewajiban bagi suami dan isteri untuk menafkahi anak, dalam hal kebahagiaan
juga tidak kalah pentingnya. Dalam hal ini, fungsi rekreasi bisa saja dilakukan
pada hari-hari libur kerja. Selain untuk membahagiakan anak, fungsi rekreasi
ini juga sangat penting untuk mengevaluasi hubungan keluarga. Mengadakan komunikasi
seperti suami isteri sama-sama
membicarakan hal-hal apa yang disukai dan tidak disukai satu sama lain. Diharapkan
tidak ada yang ditutup-tutupi, sehingga keluarga tetap utuh. Karena kasus yang
banyak terjadi dalam rumah tangga hingga menyebabkan terjadinya perceraian,
tidak adanya komunikasi yang baik antara suami isteri. Ketika terjadi
permasalahan, tidak langsung diselesaikan malah menumpuk dan semakin menumpuk
dan akhirnya tidak bisa dipendam. Maka perceraianlah akhirnya yang terjadi.
6.
Fungsi
reproduksi. Di samping
fungsi-fungsi yang sudah dijelaskan di atas, fungsi keluarga adalah untuk
reproduksi. Melalui reproduksi ini, akan melahirkan keturunan yang baik, yang
dapat meneruskan perjuangan sang suami dan isteri. Selain itu reproduksi ini
berfungsi untuk menjaga kehormatan suami isteri itu sendiri.
Sorowajan,
23 September 2014.
ISTIMEWANYA YOGYAKARTA DI PANTAI SIUNG
ISTIMEWANYA YOGYAKARTA DI PANTAISIUNG
Toloong……….tolong….tolong…….”
Teriakan minta tolong terdengar
jelas ditelingaku hingga membuatku penasaran. Kulihat kiri kanan dari mana
suara itu berasal. Ternyata temanku bernama Fahri kepeleset di belakangku, ketika
kami mendaki puncaknya pantai Siung di Yogyakarta. Iya…..namanya Fahri, hampir
mirip memang dengan aktor dalam film “ketika Cinta Bertasbih” karangan
Habiburrahaman Al-zirazy. Flim yang sangat popular pada tahun 2006 silam. Namun
ini Fahri temanku, bukan seorang artis apalagi aktor dia hanya seorang
mahasiswa pascasarjana di UIN Sunan kalijaga.
Lalu aku mundur ke belakang
sambil mengulurkan tangan berniat untuk membantunya. Setelah selesai kubantu
“terimakasih ya” ucapnya dengan penuh ikhlas terlihat dari wajahnya. Kemudian
ia bertanya kepadaku “Ibu kamu suka menolong ya”? kenapa? jawabku. Dia membalas
“karena kau telah menolong hatiku. Akhirnya kami sama-sama
tertawa..haha……ha.ha……..haha…….Suasana menjadi riuh seketika dengan gelak
candanya. Aku sih tidak heran dengan sifatnya yang suka menggombal, karena
selama kami berteman hampir 1 tahun, itu sudah menjadi sarapan pagi buatku.
Sebenarnya kami ada berempat, dua
orang lagi temanku namanya Yuni dan Hardianto, mereka sudah sampai di atas
duluan. Saya sempat heran dan bertanya dalam benakku “kok temanku mirip nama
artis semua”?. Temanku Yuni ada nama artis Yuni Sara. Hardianto ada atlet
sepakbola sedang membela U-19 pernah menjuarai piala AFC tahun 2013 lalu.
Namun, aku meyakinkan diriku itu hanya kebetulan saja.
Kejadian ini sebenarnya 4 bulan
yang lalu tepatnya pada hari minggu. Maklum suasana libur kuliah. Akhirnya kami
sampai juga di atas bibir pantai Siung. Waktu itu menunjukkan pukul 13.00 Wib,
panasnya terik matahari langsung terasa dan menembus ke kulitku yang PUTIH.
Aku melihat keindahan pantai ini dengan karang-karang
raksasanya. Tebing karangnya memiliki 250 jalur pemanjatan, juga tempat untuk
menikmati panorama pantai. Satu pesona yang menonjol dari Pantai Siung adalah
batu karangnya. Karang-karang yang berukuran raksasa di sebelah barat dan timur
pantai memiliki peran penting, tak cuma menjadi penambah keindahan dan pembatas
dengan pantai lain. Karang itu juga yang menjadi dasar penamaan pantai, saksi
kejayaan wilayah pantai di masa lampau dan pesona yang membuat pantai ini
semakin dikenal, setidaknya di wilayah Asia.
Keindahan pantai Siung ini,
tidak kami sia-siakan untuk berfoto bersama. Sesekali temanku si Yuni sambil bergaya
memegang topi yang ada di kepalanya. Lain halnya Hardianto ia memanfaatkan
kacamata besarnya berwarna hitam sambil menatap kea rah pantai. Meskipun
kelihatan sedikit cuek..
Kuamati secara seksama
keindahan pantai Siung, sehingga tidak ada kata yang keluar dari mulutku,
kecuali rasa kagum akan indahnya ciptaan Allah,,,,sambil berucap
…..subhanalloh….aku merasa inilah alasan YOGYA ISTIMEWA.


