Diberdayakan oleh Blogger.

NERAKA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU



NERAKA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU

Add caption
Yogyakarta-Selamat pagi gun, semoga dalam keadaan sehat. Kali ini, penulis mencoba berbagi ilmu sedikit berbaur konten dewasa (pernikahan). Bagi yang belum dewasa, membaca konten ini diwajibkan ada pembimbing…hehe. Tulisan yang sangat terbatas ini semoga bermanfaat.
Dimulai dari fitrah manusia, bahwa setiap manusia menginginkan pernikahan. Setelah melangsungkan pernikahan, setiap pasangan suami isteri pasti mendambakan hadirnya seorang anak. Karena, anak adalah paktor kebahagiaan dalam keluarga. Namun tidak menutup kemungkinan anak menjadi paktor buruknya keluarga dalam pandangan masyarakat, tergantung orang tua bagaimana mendidik anaknya. Seorang anak bisa disamakan dengan “kaset kosong”, artinya apapun yang ia terima dari keluarga dan sekitarnya, maka itulah yang langsung direkam dan diaflikasikan dalam kehidupannya. Untuk itu, penting diajarkan kecerdasan intlektual kepada anak.
Di samping itu, tidak kalah pentingnya adalah kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) anak. Kecerdasan spiritual diartikan oleh sebagian orang sebagai kecerdasan manusia dalam memberi makna. Kedua kecerdasan ini bisa didapat melalui keluarga, sekolah, dan masyarakat. Namun keluargalah yang paling berperan, karena waktu yang dihabiskan seorang anak di rumah lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang ia habiskan di tempat lain, dan kedua orang tua merupakan figur yang paling berpengaruh terhadap anak. Melalui keluargalah pertama kali tercipta prilaku anak baik atau buruk, dan itulah yang nantinya ia terapkan di dalam masyarakat. Jika keluarga mendidik anak dengan baik otomatis dapat bermanfaat bagi orang lain, maka inilah yang dimaksud “surga berada di telapak kaki orang tuanya”. Namun sebaliknya, jika anak mendapatkan pengajaran, perlakuan, dan pendidikan yang  tidak baik dari orang tuanya, sehingga menjadi beban di masyarakat dan negara, maka dapat dikatakan “Neraka berada di telapak kaki orang tuanya”.


Sorowajan, 14 oktober, 2014
Ahmad Sainul Nasution

PENTINGNYA KE-IKHLASAN Dalam Ibadah


PENTINGNYA KE-IKHLASAN Dalam Ibadah

ilmu iklhas dalam ibadah
source : http://s3.amazonaws.com/
Yogyakarta-Selamat malam saudara-saudaraku sekalian, semoga semuanya dalam keadaan sehat tidak kurang sedikitpun termasuk uang..wehehehehe….oke kali ini saya ingin menjelaskan atau berbagi ilmu sedikit tentang pentingnya ke-ikhlasan dalam setiap ibadah. Jika dilihat dari segi arti etimologi “ikhlas” adalah pasrah atau tulus. Lebih jauh jika dilihat secara terminologinya ikhlas berarti melakukan amalan-amalan kebaikan hanya mengharapkan rido/balasan dari Tuhan. Intinya ikhlas jika disamakan dengan manusia, maka “kepala” manusia itulah posisi ikhlas. Adapun tangan, kaki, telinga, mata, hidung, mulut, semuanya hanya paktor pendukung saja. Artinya, manusia tidak bisa hidup tanpa kepala. Terbukti, manusia masih bisa hidup tanpa, tangan, kaki, telinga, mata, hidung, dan mulut.  Akan tetapi, jika ada manusia hidup tanpa kepala, maka penulis yang lebih dulu lari..heheh

Sama dengan ibadah yang kita kerjakan, tanpa ke-ikhlasan semuanya akan menjadi sia-sia. Bahkan jangankan pahala yang diharapkan malah dosa yang didapat, karena memakai pakaian Tuhan. Iya orang yang melakukan ibadah karena riya, itu artinya dia telah memakai pakaian Tuhan. Karena riya adalah sifat Tuhan yang tidak boleh dipakai oleh hambanya. 

Imam al-Gazali pernah menjelaskan dalam buku fenomenalnya yang berjudul “ihya’ ulumuddin”. Ia bercerita tentang seorang ahli ibadah dari kaum Bani Israil. Di mana suatu hari, datang seseorang mengadu kepada ahli ibadah ini, bahwa ada sekelompok manusia yang menyembah pohon, bukan menyembah Allah. Sesaat setelah mendengar cerita tersebut, si ahli ibadah langsung naik pitam. Kemudian dia ambil kampaknya lalu berjalan menuju tempat orang menyembah pohon, dengan tujuan untuk menebangnya. Di tengah jalan ketemu sama iblis yang menyamar menjadi rupa seorang tua. Hingga akhirnya terjadi percakapan di antara mereka.” Mau kemana kamu hai pemuda”, Tanya iblis. “Aku mau menebang pohon yang dijadikan orang sebagai Tuhan” jawab si pemuda dengan penuh semangat dan marah. Lalu “apa perlunya kamu dengan itu, bahkan kamu rela meninggalkan ibadahmu” sahut iblis. “ini juga ibadah” jawabnya.

Akhirnya terjadilah percekcokan di antara keduanya, hingga terjadi perkelahian yang dimenangkan oleh pemuda tersebut. Namun akhirnya iblis menawarkan kesepakatan bahwa Ia berjanji akan memberikan uang yang cukup banyak kepada pemuda tersebut asalkan Ia tidak jadi pergi menebang pohon yang dijadikan orang sebagai Tuhan. Tentunya, kesepakatan ini dengan proses panjang, bahkan sempat terjadi dua kali perkelahian. Namun berkat kepintaran iblis, ia bisa meyakinkan pemuda tersebut dengan iming-iming “sedekah”. Maksudnya ia menjelaskan kepada pemuda tersebut jika ia telah memberikan uang, tentu ia akan bisa beribadah melalui sedekah.

Caranya, di mana setiap selesai ibadah salat, iblis menjamin pasti di bawah sejadah ada uang yang cukup banyak. Sehari dua hari berlalu, apa yang dijanjikan iblis memang jadi kenyataan. “Enak Tenannnnn” mungkin itu yang ada dipikiran pemuda tersebut, karena tanpa banyak kerja, tapi bisa menghasilkan uang yang lumayan banyak. Timbul permasalahan tepatnya di hari ke-tiga, seperti biasa selesai salat buka sejadah, alangkah kagetnya ia karena uang yang ia harapkan sudah tidak ada lagi. Kemudian, ia kembali mengambil kampaknya benar-benar ingin menebang pohon tadi. Tepat di tengah jalan, ketemu lagi sama iblis yang menyerupai orang tua, sambil bertanya “kamu mau ke mana hai pemuda”. “aku mau menebang kembali pohon yang orang jadikan sebagai Tuhan”. Singkat cerita terjadi perkelahian, di mana perkelahian tersebut dimangkan oleh iblis. Merasa lebih kuat, lebih muda, ia penasaran kenapa bisa kalah, lalu bertanya kepada iblis. “kenapa saya kalah” “begini, pertama tujuan kamu menebang pohon, benar-benar ikhlas karena Tuhan, untuk itu saya kalah. Kali ini tujuan kamu sudah beda, yaitu karena uang, makanya kamu kalah” jawab iblis merasa puas karena sudah berhasil menggoda manusia apalagi seorang ahli ibadah.


  Sorowajan, 13 October 2014 
Ahmad Sainul Nst


ARTI PENTING SEJARAH




ARTI PENTING SEJARAH


Yoyakarta-Sejarah berasal dari kata bahasa ‘arab “syajaro” artinya peristiwa atau kejadian. Secara terminologi sejarah adalah ilmu yang mempelajari kehidupan manusia tentang masa lalu. Namun terjadi pro-kontra tentang “waktu” sejarah itu sendiri, ada yang mengatakan sejarah hanya masa lalu, namun ada mengatakan sejarah juga terkait dengan masa sekarang dan akan datang. Penulis mengambil jalan tengah dengan mengambil kesimpulan bahwa sejarah adalah ilmu yang mempelajari kehidupan manusia dan masyarakat untuk melakukan pengembangan tidak hanya masa lalu, namun juga masa sekarang dan masa yang akan datang menuju lebih baik.
Kemudian timbul pertanyaan, jika tujuan sejarah adalah untuk evaluasi masa lalu, sekaran,g demi masa yang akan datang agar lebih baik, kenapa umat Islam selalu jauh tertinggal dengan umat lainnya, apa yang salah (what wrong).? Jawabannya masih berkaitan dengan sejarah itu sendiri, di mana umat Islam kurang semangat/pandai mempelajari sejarah (bahasa kasarnya kurang bersyukur), nenek moyang mereka masa lalu yang seharusnya dapat membuat hidup mereka jauh lebih baik. Justru sebaliknya, umat yang non-Muslim yang semangat dan terlalu mampu mengkaji sejarah. Tidak hanya sejarah tentang nenek moyang mereka, namun juga sejarah nenek moyang kita (Islam).
Sejarah mengatakan bahwa, sesungguhnya pakar/ilmuan matematika, geografi, dan astronomi adalah dari kalangan umat Islam bernama al-Khawarizmi (Persia). Kemudian ilmuan mantik, filsafat, dan ilmu kedokteran juga dari kalangan Islam yaitu Ibnu Sina. Tidak hanya itu, Jabir ibnu Hayyan (Irak) seorang ilmuan kimia, farmasi, astronomi dan filosofi juga dari umat Islam. Begitu juga Abu al-Zahrawi (Spanyol) seorang ilmuan teknik pengobatan patah tulang. Namun yang terjadi ketika timbul pertanyaan, siapa tokoh pencetus ilmu matematika, astronomi, geografis? Maka jawabannya pasti Nicolas Capenicus seorang ilmuan Barat. Seolah-olah al-Khawarizmi tidak turut ikut andil. Kemudia jika ditanya siapa penemu ilmu kimia, farmasi, filosofi dan astronomi.? Maka jawabannya Robert Boyle (Irlandia). Seakan-akan Jabir ibnu Hayyan, terlupakan.
Begitu juga jika dilihat saat sekarang ini, yang paling menguasai segala bidang ilmu yang dijelaskan di atas adalah umat lain (non-Muslim). Bahkan ilmu yang berkaitan dengan Islam sendiri pusatnya sekarang di Amerika Utara tepatnya di Canada, sebuah Universitas Islam yang terkenal dengan pendekatan sejarahnya. Dari Universitas ini telah banyak melahirkan tokoh-tokoh Islam Indonesia seperti Mukti Ali, Harun Nasution.
Tidak hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan, dalam bidang olahraga umat Islam selalu tertinggal. Misalnya dalam bidang olahraga sepakbola, dapat dilihat umat Islam sejauh mana ikut tampil dalam piala dunia? Begitu juga di Indonesia, disaat warga negara Indonesia menaruh harapan kepada timnas U-19 demi kemajuan sepak bola Indonesia, namun akhir-akhir ini harapan tersebut kian menipis, melihat kekalahan-kekalan yang terus dialami. Terakhir kalah dari Uzbekistan dengan skor cukup telak 3-1 dalam pertandingan AFC Cup U-19 2014 di Miyanmar. Sekali lagi, itu semua terjadi ketika, manusianya mampu atau tidak mempelajari sejarah dengan baik, kemudian mengambil kesimpulan dari sejarah itu sendiri, untuk persiapan masa yang akan datang.

                                                                                                                                Kotagede, 12 October 2014
                                                                                                                                Ahmad Sainul Nst.

ARTI PENTING SABAR

SABAR
        Yogyakarta- Sabar berasal dari kata bahasa Arab "sobaro" artinya menahan. secara terminologi sabar berarti menahan diri dari kesusahan, kemiskinan, fitnahan, cercaan, makian dengan menyikapinya secara positif, dan mengembalikannya sesuai aturan syariat Islam. Sabar bisa disebabkan datangnya dari Tuhan, misalnya karena kemiskinan, kemelaratan bahkan kekayaan. sabar juga bisa datangnya dari intraksi sesama manusia, misal sabar menerima fitnahan dari orang lain, sabar menghadapi kejahatan orang lain. sedangkan sumber kesabaran dari makhluk lain, contohnya binatang, yaitu menahan diri untuk tidak membalas musibah yang disebabkan binatang itu sendiri. dalam pembahasan ini, fokusnya adalah sabar dari tindakan kejahatan dari manusia itu sendiri.
        Ada pemahaman yang keliru dan berkembang di masyarakat yaitu "sabar ada batasnya". Padahal tidak ada ayat al-qur'an maupun sunnah yang menjelaskan bahwa sabar ada batasnya. justru al-qur'an dan sunnah menganjuran agar tetap sabar dalam segala cobaan yang dihadapi, sekali lagi tanpa batas waktu. ketika seseorang sabar akan cobaan yang menimpanya baik dari Tuhan, manusia maupun makhluk hidup lainnya, maka pada saat itu juga ia mendapatkan pahala dari Tuhan Yang Maha Esa.
       Memang ada ayat yang menjelaskan hukuman tentang qisas yaitu "jiwa dibalas dengan jiwa", terhadap orang yang mendapat tindak kekerasan dari orang lain, bahwa kekerasan dibalas dengan kekerasan, namun ayat tersebut adalah ayat pilihan. Pilihan yang lebih baik adalah sabar. Sama halnya dengan ayat yang menjelaskan berkaitan dengan "puasa" bahwa orang yang sedang sakit, hamil, dan bepergian diperbolehkan tidak berpuasan. Namun ayat ini, menganjurkan bahwa puasa adalah lebih baik jika kamu mampu.
       Terkait dengan sabar, cara terbaik membalas kejahatan, fitnah orang lain adalah apa yang sudah diperaktekkan Rasulullah Saw, yaitu dengan berbuat baik terhadap orang yang berbuat jahat tersebut. Rasulullah Saw pernah dicaci, difitnah oleh orang non-Muslim yang memiliki kondisi buta matanya. Namun apakah Rasulullah membalasnya dengan fitnah juga.? apalagi kondisi orang yang mencacinya lebih lemah dari Rasulullah, sehingga sewaktu-waktu jika Rasulullah mau membalasnya dengan sangat mudah, namun ternyata tidak. Sebelumnya, sabar itu berpahala ketika kita tidak membalas kejahatan yang orang lain buat terhadap kita. Namun, akan lebih besar pahalanya ketika kita mendapat fitnah dari orang lain, padahal kita sebenarnya mampu untuk membalasnya, kita lebih kuat fisiknya, lebih cemerlang cara berfikirnya, tapi kita lebih memilih sabar.
       Sama halnya apa yang dipraktekkan Rasulullah terhadap orang buta yang memfitnahnya tersebut, Ia lebih memilih untuk sabar, bahkan malah membalas dengan kebaikan. di mana hampir setiap hari Rasulullah memberi makan, dan menyuapi orang yang jelas-jelas telah memfitnahnya. Anehnya si buta tersebut tidak mengetahui bahwa yang memberi ia makan adalah orang yang selama ini Ia fitnah. Hingga akhirnya Rasulullah meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia Rasulullah berpesan kepada salah satu sahabatnya, agar tetap memberi makan kepada sibuta tadi.
      Singkat cerita, sahabat yang ditunjuk Rasulullah tersebut menjalankan tugasnya. Pada saat sahabat memberi makan kepada si buta tersebut, si buta merasa ada yang aneh. Di mana, pelayanan kali ini berbeda dengan biasanya yang ia rasakan, lemah lembut, sopan, dan penuh kehormatan. Merasa ada yang berbeda lalu si buta bertanya "kamu siapa, kenapa beda dengan sebelumnya"? "Orang yang memberi kamu makan selama ini adalah Rasulullah dan telah meninggal dunia, saya ditugaskan untuk mengganti posisinya memberi kamu makan." Jawab sahabat dengan penuh sara kehilangan.
      Itu cara pertama, cara yang kedua membalas kejahatan, fitnahan dari orang lain adalah berusaha untuk menjadi lebih baik dan sukses. Karena biasanya orang lebih cenderung mendapatkan fitnah dari orang lain, ketika kondisi ekonominya standar dan di bawah rata-rata (miskin). Dalam hal ini, kita tunjukkan kepada orang yang memfitnah tersebut bahwa kita mampu dan tidak seperti yang ia bayangkan. 

Kotagede, 12 Oktober 2014

Ahmad Sainul Nasution.

FUNGSI KELUARGA



FUNGSI KELUARGA

Yogyakarta-Setiap manusia, pasti mengharapkan perkawinan karena dari perkawinan akan lahir sebuah keluarga. Yaitu suasana rumah tangga antara ayah, ibu dan anak (keluarga inti) penuh dengan kasih sayang. Suasana rumah tangga sekarang (keluarga inti) sangat berbeda dengan keluarga pada zaman dahulu, di mana terkadang dalam sebuah rumah tangga di dalamnya terdiri dari beberapa kepala keluarga (keluarga binti).
Segala sesuatu pasti mempunyai fungsi. Sama hal nya dengan keluarga juga mempunyai beberapa fungsi antara lain:
1.      Fungsi spiritual. Maksudnya, melalui perkawinan antara suami, isteri dan anak semakin bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Misalnya, jika suami sebelum menikah malas melaksanakan salat dengan alasan tidak memiliki teman serasi dalam beridadah kepada Tuhan, maka setelah menikah alasan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Dan isteri harus mampu memposisikan dirinya untuk mengingatkan suaminya tersebut. Begitu juga sebaliknya.
2.      Fungsi ekonomi. Jika pada zaman dahulu sebelum Indonesia mengalami system demokrasi seperti saat ini, kebanyakan dalam rumah tangga yang menjadi tulang punggung untuk mencari nafkah (fungsi ekonomi) biasanya suami. Namun berbeda dengan situasi kondisi saat ini, di mana peluang antara laki-laki dan perempuan sama, maka tidak mustahil dalam sebuah keluarga suami dan isteri sama-sama memiliki penghasilan. Islam memandang tidak ada yang salah jika isteri memilki penghasilan tersendiri dan bekerja di luar rumah, selama isteri tersebut dapat menjaga martabatnya sebagai seorang isteri dan perempuan. Untuk mengatasi permasalahan keluarga seperti ini harus ada kesepakatan dan komunikasi yang baik. Misalnya, pembagian tanggungjawab rumah tangga, bisa saja anak dititipkan kepada pembantu ketika isteri sedang bekerja. Dalam hal pembagian nafkah juga melalalui kesepakatan. Misalnya pembayaran untuk tagihan listrik, biaya pendidikan anak, gaji pembantu dilimpahkan kepada isteri. Sedang suami berkewajiban untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga.
3.      Fungsi social. Maksudnya, antara suami isteri dan anak dalam hubungan di masyarakat luas memiliki kewajiban untuk menjaga nama baik keuarga. Seorang anak dituntut tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mencemari nama baik orang tua. Tentunya untuk menerapkan pemahaman seperti ini melalui pendidikan seperti yang akan dijelaskan fungsi keluarga selanjutnya.
4.      Fungsi pendidikan. Kewajiban selanjutnya bagi suami isteri memberikan pendidikan kepada anak. Pendidikan tidak hanya ketika anak sudah menjadi anak-anak kemudian disekolahkan, namun pendidikan juga harus dimulai sejak anak di dalam kandungan. Ulama fikih sudah banyak menjelaskan, pendidikan-pendidikan yang bisa diterapkan kepada anak sewaktu dalam kandungan, mulai dari menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang sampai membaca beberapa surat dalam al-qur’an surat (maryam yunus) yang dianggap sangat banyak manfaatnya kepada anak kelak. Setelah anak lahir kedunia sangat dianjurkan azan dikumandangkan pada telinga sebelah kanan. Sedangkan sebelah kiri diiqomatkan.
5.      Fungsi rekreasi. Keluarga yang baik adalah bukan keluarga yang monoton. Artinya tidak selalu disibukkan dengan pekerjaan. Disamping kewajiban bagi suami dan isteri untuk menafkahi anak, dalam hal kebahagiaan juga tidak kalah pentingnya. Dalam hal ini, fungsi rekreasi bisa saja dilakukan pada hari-hari libur kerja. Selain untuk membahagiakan anak, fungsi rekreasi ini juga sangat penting untuk mengevaluasi hubungan keluarga. Mengadakan komunikasi  seperti suami isteri sama-sama membicarakan hal-hal apa yang disukai dan tidak disukai satu sama lain. Diharapkan tidak ada yang ditutup-tutupi, sehingga keluarga tetap utuh. Karena kasus yang banyak terjadi dalam rumah tangga hingga menyebabkan terjadinya perceraian, tidak adanya komunikasi yang baik antara suami isteri. Ketika terjadi permasalahan, tidak langsung diselesaikan malah menumpuk dan semakin menumpuk dan akhirnya tidak bisa dipendam. Maka perceraianlah akhirnya yang terjadi.
6.      Fungsi reproduksi. Di samping fungsi-fungsi yang sudah dijelaskan di atas, fungsi keluarga adalah untuk reproduksi. Melalui reproduksi ini, akan melahirkan keturunan yang baik, yang dapat meneruskan perjuangan sang suami dan isteri. Selain itu reproduksi ini berfungsi untuk menjaga kehormatan suami isteri itu sendiri.


Sorowajan, 23 September 2014.

ISTIMEWANYA YOGYAKARTA DI PANTAI SIUNG


ISTIMEWANYA YOGYAKARTA DI PANTAISIUNG

Toloong……….tolong….tolong…….”
Teriakan minta tolong terdengar jelas ditelingaku hingga membuatku penasaran. Kulihat kiri kanan dari mana suara itu berasal. Ternyata temanku bernama Fahri kepeleset di belakangku, ketika kami mendaki puncaknya pantai Siung di Yogyakarta. Iya…..namanya Fahri, hampir mirip memang dengan aktor dalam film “ketika Cinta Bertasbih” karangan Habiburrahaman Al-zirazy. Flim yang sangat popular pada tahun 2006 silam. Namun ini Fahri temanku, bukan seorang artis apalagi aktor dia hanya seorang mahasiswa pascasarjana di UIN Sunan kalijaga. 

Lalu aku mundur ke belakang sambil mengulurkan tangan berniat untuk membantunya. Setelah selesai kubantu “terimakasih ya” ucapnya dengan penuh ikhlas terlihat dari wajahnya. Kemudian ia bertanya kepadaku “Ibu kamu suka menolong ya”? kenapa? jawabku. Dia membalas “karena kau telah menolong hatiku. Akhirnya kami sama-sama tertawa..haha……ha.ha……..haha…….Suasana menjadi riuh seketika dengan gelak candanya. Aku sih tidak heran dengan sifatnya yang suka menggombal, karena selama kami berteman hampir 1 tahun, itu sudah menjadi sarapan pagi buatku. 

Sebenarnya kami ada berempat, dua orang lagi temanku namanya Yuni dan Hardianto, mereka sudah sampai di atas duluan. Saya sempat heran dan bertanya dalam benakku “kok temanku mirip nama artis semua”?. Temanku Yuni ada nama artis Yuni Sara. Hardianto ada atlet sepakbola sedang membela U-19 pernah menjuarai piala AFC tahun 2013 lalu. Namun, aku meyakinkan diriku itu hanya kebetulan saja.

Kejadian ini sebenarnya 4 bulan yang lalu tepatnya pada hari minggu. Maklum suasana libur kuliah. Akhirnya kami sampai juga di atas bibir pantai Siung. Waktu itu menunjukkan pukul 13.00 Wib, panasnya terik matahari langsung terasa dan menembus ke kulitku yang PUTIH. Aku melihat keindahan pantai ini dengan karang-karang raksasanya. Tebing karangnya memiliki 250 jalur pemanjatan, juga tempat untuk menikmati panorama pantai. Satu pesona yang menonjol dari Pantai Siung adalah batu karangnya. Karang-karang yang berukuran raksasa di sebelah barat dan timur pantai memiliki peran penting, tak cuma menjadi penambah keindahan dan pembatas dengan pantai lain. Karang itu juga yang menjadi dasar penamaan pantai, saksi kejayaan wilayah pantai di masa lampau dan pesona yang membuat pantai ini semakin dikenal, setidaknya di wilayah Asia.

Keindahan pantai Siung ini, tidak kami sia-siakan untuk berfoto bersama. Sesekali temanku si Yuni sambil bergaya memegang topi yang ada di kepalanya. Lain halnya Hardianto ia memanfaatkan kacamata besarnya berwarna hitam sambil menatap kea rah pantai. Meskipun kelihatan sedikit cuek..

Kuamati secara seksama keindahan pantai Siung, sehingga tidak ada kata yang keluar dari mulutku, kecuali rasa kagum akan indahnya ciptaan Allah,,,,sambil berucap …..subhanalloh….aku merasa inilah alasan YOGYA ISTIMEWA.
kotagede 6 september 2014
mytwet - Zainul

- Copyright © KAJIAN ILMIAH - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -